Download brosur Pelatihan Minyak Atsiri Gel. 5.
http://rapidshare.com/files/254157583/Brosur_training_atsiri_Gel_5.zipklik FREE USER, lalu klik icon DOWNLOAD. File dalam bentuk winzip.
Dear rekan-rekan..
Bersama ini kami informasikan bahwa "Pelatihan Budidaya dan Penyulingan Minyak Atsiri, Gel. 5" akan kami selenggarakan pada tanggal 8-9 agustus 2009 bertempat di Bandung (hari-1) dan Subang (hari-2).
Adapun materi yg akan disampaikan mencakup:
1. Pengetahuan/wawasan umum minyak atsiri
2. Kendala pengembangan bisnis minyak atsiri
3. Teknik pemasaran minyak atsiri
4. Teknik produksi minyak atsiri dgn proses penyulingan
5. Studi kelayakan bisnis minyak atsiri
6. Teknik pembibitan dan budidaya nilam dan sereh wangi sistem organik
7. Teknik pembuatan pupuk organik padat dan cair serta pestisida nabati
8. Praktek penyulingan (sereh wangi, gagang cengkeh, pala, nilam)
Biaya Pelatihan : Rp 1.300.000,- (termasuk training kit, kaos training, makan siang 2x, snack, transportasi bandung-subang PP, bundel artikel minyak atsiri)
Informasi lebih lanjut, hub. Rijal (085624931119) atau email: training_atsiri@yahoo.com
Friday, June 19, 2009
Tuesday, June 02, 2009
Bahan Bakar untuk Penyulingan
Pada proses produksi minyak atsiri dengan teknik penyulingan dibutuhkan bahan bakar yang berfungsi sebagai sumber energi untuk menghasilkan uap (steam) baik uap yang dihasilkan oleh boiler maupun terintegrasi dengan ketel sulingnya (sistem kukus). Aneka jenis bahan bakar/sumber energi banyak tersedia di sekitar kita, mulai dari yang mahal hingga yang gratisan. Contohnya; energi listrik (baik membeli dari PLN atau membuat sendiri melalui teknologi mikrohidro atau surya), gas LPG, minyak tanah, solar, batubara (atau briketnya), kayu bakar, biomassa pertanian (jerami, batok/sabut kelapa, sekam padi, tongkol jagung, daun-daunan, dll), karet ban, serta ampas dari penyulingan itu sendiri.
Pertanyaannya, apa sesungguhnya bahan bakar yang tepat (dan ekonomis) untuk menyelenggarakan proses produksi minyak atsiri melalui teknik penyulingan? Jangan mentang-mentang mudah diperoleh dan mudah diaplikasikan maka pilih saja bahan bakar minyak atau gas.
Dalam memilih jenis bahan bakar yang akan dipakai perlu mempertimbangkan beberapa hal sebagai berikut :
- Desain alat penyulingan (terutama boiler)
model tungku pembakaran dan struktur desain untuk bahan bakar gas dan bahan bakar minyak tentu berbeda dengan bahan bakar padatan. Meskipun tungku pembakaran ini bisa didesain untuk keperluan penggunaan dua jenis bahan bakar di atas. Juga demikian halnya dengan desain boilernya.
- Lokasi penyulingan
penggunaan bahan bakar yang menimbulkan polusi udara berlebihan seperti batu bara, kayu bakar, dan biomassa lainnya tentu tidak bijak apabila lokasi penyulingan berada di tengah kota atau pemukiman padat penduduk. Bisa diganyang orang se-komplek nanti…hehe.
- Besaran investasi
Biasanya investasi untuk bahan bakar jenis padatan lebih murah daripada bahan bakar gas atau minyak. BBG atau BBM membutuhkan burner khusus yang harganya cukup lumayan agar pembakaran dapat berlangsung efisien dan sempurna. Ada juga burner yang harganya lebih murah seperti kompor gas LPG besar (yang dipakai di restoran-restoran) atau smower minyak tanah (seperti yang dipakai tukang basho atau mie ayam tapi yang ukurannya besar) tetapi dari sisi aspek keterbakaran dan keteroperasian jauh lebih bagus jika digunakan burner yang mahal dan ber-merk. Contoh; Olympia, Beckett, Ray, Ecoflam.
- Nilai ekonomi dari minyak atsiri yang diproduksi
Hal ini yang sering luput dari pengamatan para pemain baru di bisnis minyak atsiri. Sebagian besar hanya mempertimbangkan kemudahan operasi, kemudahan supplai, kestabilan panas, dan sedikit polusi tetapi kurang mempertimbangkan aspek ekonominya. Menyuling daun cengkeh, sereh wangi, dan nilam (dengan harga minyak terkini) kurang ekonomis apabila menggunakan bahan bakar komersil. Untuk nilam, kecuali jika anda mendapatkan harga jual yang baik. Jadi, hitung-hitung dulu ya. Kalau saya menyuling minyak ini kapasitas sekian kg, akan dapat minyak sekitar sekian kg. Kalau harga jualnya sekian, maka saya akan mendapatkan sekian rupiah. Nah, kalau digunakan bahan bakar ini, maka...........Wah, saya rugi dong..:)
- Tingkat ketersediaan dan kontinyuitas
Sebelum memutuskan bahan bakar mana yang akan dipakai, pastikan bahwa anda bisa mengakses bahan bakar tersebut kapanpun anda ingin menyuling. Dan sebaiknya sumber untuk mendapatkan bahan bakar sedekat mungkin dengan lokasi penyulingan anda.
Beberapa jenis minyak atsiri tidak dibutuhkan pembelian bahan bakar alias gratis seperti minyak daun cengkeh, sereh wangi, sereh dapur karena ampas penyulingannya sudah mencukupi sebagai bahan bakar untuk proses penyulingan selanjutnya.
Selamat menyuling!!
Pertanyaannya, apa sesungguhnya bahan bakar yang tepat (dan ekonomis) untuk menyelenggarakan proses produksi minyak atsiri melalui teknik penyulingan? Jangan mentang-mentang mudah diperoleh dan mudah diaplikasikan maka pilih saja bahan bakar minyak atau gas.
Dalam memilih jenis bahan bakar yang akan dipakai perlu mempertimbangkan beberapa hal sebagai berikut :
- Desain alat penyulingan (terutama boiler)
model tungku pembakaran dan struktur desain untuk bahan bakar gas dan bahan bakar minyak tentu berbeda dengan bahan bakar padatan. Meskipun tungku pembakaran ini bisa didesain untuk keperluan penggunaan dua jenis bahan bakar di atas. Juga demikian halnya dengan desain boilernya.
- Lokasi penyulingan
penggunaan bahan bakar yang menimbulkan polusi udara berlebihan seperti batu bara, kayu bakar, dan biomassa lainnya tentu tidak bijak apabila lokasi penyulingan berada di tengah kota atau pemukiman padat penduduk. Bisa diganyang orang se-komplek nanti…hehe.
- Besaran investasi
Biasanya investasi untuk bahan bakar jenis padatan lebih murah daripada bahan bakar gas atau minyak. BBG atau BBM membutuhkan burner khusus yang harganya cukup lumayan agar pembakaran dapat berlangsung efisien dan sempurna. Ada juga burner yang harganya lebih murah seperti kompor gas LPG besar (yang dipakai di restoran-restoran) atau smower minyak tanah (seperti yang dipakai tukang basho atau mie ayam tapi yang ukurannya besar) tetapi dari sisi aspek keterbakaran dan keteroperasian jauh lebih bagus jika digunakan burner yang mahal dan ber-merk. Contoh; Olympia, Beckett, Ray, Ecoflam.
- Nilai ekonomi dari minyak atsiri yang diproduksi
Hal ini yang sering luput dari pengamatan para pemain baru di bisnis minyak atsiri. Sebagian besar hanya mempertimbangkan kemudahan operasi, kemudahan supplai, kestabilan panas, dan sedikit polusi tetapi kurang mempertimbangkan aspek ekonominya. Menyuling daun cengkeh, sereh wangi, dan nilam (dengan harga minyak terkini) kurang ekonomis apabila menggunakan bahan bakar komersil. Untuk nilam, kecuali jika anda mendapatkan harga jual yang baik. Jadi, hitung-hitung dulu ya. Kalau saya menyuling minyak ini kapasitas sekian kg, akan dapat minyak sekitar sekian kg. Kalau harga jualnya sekian, maka saya akan mendapatkan sekian rupiah. Nah, kalau digunakan bahan bakar ini, maka...........Wah, saya rugi dong..:)
- Tingkat ketersediaan dan kontinyuitas
Sebelum memutuskan bahan bakar mana yang akan dipakai, pastikan bahwa anda bisa mengakses bahan bakar tersebut kapanpun anda ingin menyuling. Dan sebaiknya sumber untuk mendapatkan bahan bakar sedekat mungkin dengan lokasi penyulingan anda.
Beberapa jenis minyak atsiri tidak dibutuhkan pembelian bahan bakar alias gratis seperti minyak daun cengkeh, sereh wangi, sereh dapur karena ampas penyulingannya sudah mencukupi sebagai bahan bakar untuk proses penyulingan selanjutnya.
Selamat menyuling!!
Wednesday, May 20, 2009
Tips Pemasaran Minyak Atsiri bagi pemula
Banyak pertanyaan baik via email, blog, maupun telp/sms yang masuk ke saya yang berkaitan dengan pemasaran minyak atsiri. Sebagian besar merupakan pemula atau bahkan awam di bisnis minyak atsiri. Saya bukan orang yang berpengalaman dalam bidang pemasaran minyak atsiri karena usaha kami saat ini bukan bergerak pada bidang perdagangan/trading minyak atsiri sehingga apapun jenis minyak atsiri bisa kami pasarkan. Kenalan atau mitra pembeli minyak atsiri memang ada beberapa yang bisa direkomendasikan (yg sebenarnya bisa anda dapatkan sendiri), tetapi tentu tidak semudah itu juga memasarkan apalagi minyak-minyak atsiri yang tergolong baru (alias tidak umum). Beberapa jenis minyak atsiri dibutuhkan strategi dan teknik pemasaran khusus.
Berikut beberapa saran dan trik yg sekiranya bisa saya sampaikan berkaitan dengan pemasaran minyak atsiri.
1.Produksilah jenis minyak atsiri yang bisa anda pasarkan, dan bukan jenis minyak atsiri yang bisa anda produksi (bahan baku melimpah di daerah anda).
2.Pastikan bahwa minyak atsiri yang anda produksi sudah memenuhi standar kualitas umum yang bisa dipasarkan dengan harga standar. Pastikan pula anda tahu kualitas minyak atsiri yang anda hasilkan..:)
3.Di website Dewan Atsiri Indonesia - DAI (www.atsiri-indonesia.com) ada banyak daftar eksportir minyak atsiri di Indonesia yang disertai dengan nomor kontak. Cobalah telpon satu persatu para eksportir tersebut dan tanyakan apakah mereka bisa menampung hasil produksi anda serta mekanisme-mekanisme lainnya
4.Kalau tidak puas dengan data pada web DAI di atas, datanglah ke perpustakaan Departemen Perdagangan RI khususnya BPEN (Badan pengembangan Ekspor Nasional), mintalah daftar para eksportir minyak atsiri dan hubungi mereka satu-persatu. Salah satu teman saya bisa mendapatkan sekitar 50-an alamat dan kontak eksportir minyak atsiri dari BPEN Departemen Perdagangan. Dari jumlah itu tidak semuanya masih aktif sebagai eksportir minyak atsiri. Jadi jangan gusar apabila anda telpon salah satu di antara mereka lau jawabnya,”Wah... maaf Pak, kita sudah lama tidak main minyak atsiri lagi”. Yang seperti ini kemungkinannya ada dua, yaitu memang benar-benar sudah tidak bermain atsiri lagi atau mereka sudah punya supplai tetap dan enggan untuk berhubungan dengan pemain-pemain baru (menutup kesempatan para pemain baru).
5.Masih tidak puas dengan data-data di atas, carilah lagi via om google. Jika dapat no kontak siapapun yg mau membeli minyak atsiri jangan sungkan-sungkan untuk melakukan kontak langsung untuk menanyakannya.
6.Banyak para pemula yang ingin langsung memasarkan minyak atsirinya ke eksportir padahal kapasitasnya belum memadai sehingga posisi tawarnya belum tinggi. Apalagi belum mengenal lebih jauh seluk-beluk bisnis ini. Mulailah dari pemasaran tingkat bawah (baca=pengumpul kecil) sambil belajar lebih jauh tentang pemasaran minyak atsiri dan memperluas jaringan pemasaran. Lambat laun pemain-pemain dan pelaku bisnis ini dapat anda petakan. Dan pada akhirnya anda bisa memperlebar jangkauan pemasaran anda tentu diikuti dengan kuantitas dan kontinyuitas supplai produk minyak atsiri anda.
7.Positioning dan Branding. Ini penting bagi anda yang merasa memiliki spesialisasi untuk jenis minyak atsiri tertentu. Teknik Branding butuh waktu, kesabaran, konsistensi, dan perencanaan yang baik. Contohnya: anda memutuskan untuk spesialis di bidang minyak sirih. Buatlah blog atau website khusus yang berbicara tentang seluk beluk minyak sirih. Atau bisa juga facebook dan sejenisnya. Buat juga tulisan-tulisan atau opini-opini (yang benar dan bisa dipertanggungjawabkan) tentang minyak sirih. Pokoknya dimanapun dan kapanpun saat bercengkerama dalam khasanah minyak atsiri, ceritalah tentang minyak sirih. Lama-lama anda akan dikenal oleh khalayak sebagai pakar dan produsen minyak sirih sehingga para pembeli minyak sirih akan mengenal anda dan mungkin menghubungi anda tanpa anda harus bersusah payah mencari mereka.
8.Untuk beberapa minyak atsiri khusus, anda butuh usaha ekstra untuk mencari pemakai langsung (end-user), contohnya; usaha-usaha spa, aromateraphi, farmasi, kosmetika, jamu, balsem, obat gosok, sabun/deterjen, dll. Cari informasi sebanyak mungkin tentang target pasar anda lalu datangi atau berhubungan langsung dengan pemilik usaha tersebut atau yang mewakili (bagian purchasing).
9.Jika anda sudah memulai produksi, sampel cukup penting untuk mengenalkan produk anda ke calon pembeli. Bagi para pemula yang belum produksi memang agak sulit untuk menemukan pasar sebab biasanya calon pembeli selalu menanyakan sampel minyaknya. Ingat, banyak faktor yang mempengaruhi kualitas minyak atsiri. Dua orang penyuling yang menyuling dari sumber bahan baku sama, belum tentu menghasilkan minyak atsiri dengan kualitas yang sama. Apalagi sumber bahan bakunya berbeda..:)
10.Pemetaan pasar penting, terutama supply and demand. Ingat bahwa permintaan minyak atsiri itu ada batasnya. Kalau dikatakan tak terbatas, itu isapan jempol belaka!! Saya pernah ditanya bagaimana mengenai pemasaran minyak pala yang kita produksi. Saya jawab,”Saat ini berapapun kita produksi selalu diambil oleh pembeli kita”. Bagaimana interpretasi anda membaca jawaban saya itu? Yang paham dengan bisnis ini tentu akan memiliki intrepretasi berbeda dengan teman-teman pemula atau masih awam dengan bisnis minyak atsiri.
11. Eh, satu lagi tapi tidak ada kaitannya dengan pemasaran. Jangan mudah terbuai oleh "angin surga" tulisan-tulisan tentang bisnis minyak atsiri yang dikatakan menjanjikan, mudah, keuntungan segudang, dll yang disertai dengan data-data yang menurut saya faktanya tidak seperti itu. Dalam bisnis apapun pengalaman, wawasan, dan jam terbang sangat menentukan keberhasilannya. Dalam minyak atsiri, yang sudah berpengalamanpun kadang-kadang masih suka “kejeblos”...hehe. Bisnis ini memang menjanjikan asal......bla...bla...bla...........
OK, keep your spirit.... Semoga tulisan ini bisa membantu teman-teman pemula atau awam di bidang minyak atsiri. Namanya juga usaha jadi butuh kesabaran, keuletan, kreativitas, kerja keras, komitmen dan totalitas, serta tentu saja semangat pantang menyerah.
Berikut beberapa saran dan trik yg sekiranya bisa saya sampaikan berkaitan dengan pemasaran minyak atsiri.
1.Produksilah jenis minyak atsiri yang bisa anda pasarkan, dan bukan jenis minyak atsiri yang bisa anda produksi (bahan baku melimpah di daerah anda).
2.Pastikan bahwa minyak atsiri yang anda produksi sudah memenuhi standar kualitas umum yang bisa dipasarkan dengan harga standar. Pastikan pula anda tahu kualitas minyak atsiri yang anda hasilkan..:)
3.Di website Dewan Atsiri Indonesia - DAI (www.atsiri-indonesia.com) ada banyak daftar eksportir minyak atsiri di Indonesia yang disertai dengan nomor kontak. Cobalah telpon satu persatu para eksportir tersebut dan tanyakan apakah mereka bisa menampung hasil produksi anda serta mekanisme-mekanisme lainnya
4.Kalau tidak puas dengan data pada web DAI di atas, datanglah ke perpustakaan Departemen Perdagangan RI khususnya BPEN (Badan pengembangan Ekspor Nasional), mintalah daftar para eksportir minyak atsiri dan hubungi mereka satu-persatu. Salah satu teman saya bisa mendapatkan sekitar 50-an alamat dan kontak eksportir minyak atsiri dari BPEN Departemen Perdagangan. Dari jumlah itu tidak semuanya masih aktif sebagai eksportir minyak atsiri. Jadi jangan gusar apabila anda telpon salah satu di antara mereka lau jawabnya,”Wah... maaf Pak, kita sudah lama tidak main minyak atsiri lagi”. Yang seperti ini kemungkinannya ada dua, yaitu memang benar-benar sudah tidak bermain atsiri lagi atau mereka sudah punya supplai tetap dan enggan untuk berhubungan dengan pemain-pemain baru (menutup kesempatan para pemain baru).
5.Masih tidak puas dengan data-data di atas, carilah lagi via om google. Jika dapat no kontak siapapun yg mau membeli minyak atsiri jangan sungkan-sungkan untuk melakukan kontak langsung untuk menanyakannya.
6.Banyak para pemula yang ingin langsung memasarkan minyak atsirinya ke eksportir padahal kapasitasnya belum memadai sehingga posisi tawarnya belum tinggi. Apalagi belum mengenal lebih jauh seluk-beluk bisnis ini. Mulailah dari pemasaran tingkat bawah (baca=pengumpul kecil) sambil belajar lebih jauh tentang pemasaran minyak atsiri dan memperluas jaringan pemasaran. Lambat laun pemain-pemain dan pelaku bisnis ini dapat anda petakan. Dan pada akhirnya anda bisa memperlebar jangkauan pemasaran anda tentu diikuti dengan kuantitas dan kontinyuitas supplai produk minyak atsiri anda.
7.Positioning dan Branding. Ini penting bagi anda yang merasa memiliki spesialisasi untuk jenis minyak atsiri tertentu. Teknik Branding butuh waktu, kesabaran, konsistensi, dan perencanaan yang baik. Contohnya: anda memutuskan untuk spesialis di bidang minyak sirih. Buatlah blog atau website khusus yang berbicara tentang seluk beluk minyak sirih. Atau bisa juga facebook dan sejenisnya. Buat juga tulisan-tulisan atau opini-opini (yang benar dan bisa dipertanggungjawabkan) tentang minyak sirih. Pokoknya dimanapun dan kapanpun saat bercengkerama dalam khasanah minyak atsiri, ceritalah tentang minyak sirih. Lama-lama anda akan dikenal oleh khalayak sebagai pakar dan produsen minyak sirih sehingga para pembeli minyak sirih akan mengenal anda dan mungkin menghubungi anda tanpa anda harus bersusah payah mencari mereka.
8.Untuk beberapa minyak atsiri khusus, anda butuh usaha ekstra untuk mencari pemakai langsung (end-user), contohnya; usaha-usaha spa, aromateraphi, farmasi, kosmetika, jamu, balsem, obat gosok, sabun/deterjen, dll. Cari informasi sebanyak mungkin tentang target pasar anda lalu datangi atau berhubungan langsung dengan pemilik usaha tersebut atau yang mewakili (bagian purchasing).
9.Jika anda sudah memulai produksi, sampel cukup penting untuk mengenalkan produk anda ke calon pembeli. Bagi para pemula yang belum produksi memang agak sulit untuk menemukan pasar sebab biasanya calon pembeli selalu menanyakan sampel minyaknya. Ingat, banyak faktor yang mempengaruhi kualitas minyak atsiri. Dua orang penyuling yang menyuling dari sumber bahan baku sama, belum tentu menghasilkan minyak atsiri dengan kualitas yang sama. Apalagi sumber bahan bakunya berbeda..:)
10.Pemetaan pasar penting, terutama supply and demand. Ingat bahwa permintaan minyak atsiri itu ada batasnya. Kalau dikatakan tak terbatas, itu isapan jempol belaka!! Saya pernah ditanya bagaimana mengenai pemasaran minyak pala yang kita produksi. Saya jawab,”Saat ini berapapun kita produksi selalu diambil oleh pembeli kita”. Bagaimana interpretasi anda membaca jawaban saya itu? Yang paham dengan bisnis ini tentu akan memiliki intrepretasi berbeda dengan teman-teman pemula atau masih awam dengan bisnis minyak atsiri.
11. Eh, satu lagi tapi tidak ada kaitannya dengan pemasaran. Jangan mudah terbuai oleh "angin surga" tulisan-tulisan tentang bisnis minyak atsiri yang dikatakan menjanjikan, mudah, keuntungan segudang, dll yang disertai dengan data-data yang menurut saya faktanya tidak seperti itu. Dalam bisnis apapun pengalaman, wawasan, dan jam terbang sangat menentukan keberhasilannya. Dalam minyak atsiri, yang sudah berpengalamanpun kadang-kadang masih suka “kejeblos”...hehe. Bisnis ini memang menjanjikan asal......bla...bla...bla...........
OK, keep your spirit.... Semoga tulisan ini bisa membantu teman-teman pemula atau awam di bidang minyak atsiri. Namanya juga usaha jadi butuh kesabaran, keuletan, kreativitas, kerja keras, komitmen dan totalitas, serta tentu saja semangat pantang menyerah.
Friday, April 17, 2009
EKSTRAKSI PELARUT UNTUK MINYAK ATSIRI BUNGA-BUNGAAN
Buat tambahan pengetahuan buat para peminat minyak atsiri.
Apa itu ekstraksi? Ekstraksi pada prinsipnya adalah teknik pemisahan (separasi) yang mengeksploitasi perbedaan sifat kelarutan dari masing-masing komponen campuran terhadap jenis pelarut tertentu.
Contohnya adalah : Campuran A dan B hendak dipisahkan menggunakan campuran A dan B hendak dipisahkan menggunakan pelarut X. Dari data-data sifat kelarutan, komponen A sangat larut dalam X, sedangkan komponen B sedikit larut atau bahkan tak larut. Apabila pelarut X tersebut ditambahkan pada campuran A dan B yang berbeda sifat
kepolarannya, maka komponen A akan larut dalam X, sedangkan B tidak. Sehingga akan didapatkan campuran baru, yaitu A dan X. Tahap selanjutnya adalah bagaimana memisahkan A dan X ini? Salah satu metodenya adalah evaporasi/penguapan pelarut.
kepolarannya, maka komponen A akan larut dalam X, sedangkan B tidak. Sehingga akan didapatkan campuran baru, yaitu A dan X. Tahap selanjutnya adalah bagaimana memisahkan A dan X ini? Salah satu metodenya adalah evaporasi/penguapan pelarut.
Dalam kaitannya dengan minyak atsiri, teknik ekstraksi ini biasanya digunakan untuk menghasilkan minyak atsiri yang mudah rusak oleh panas, dalam hal ini adalah minyak bunga-bungaan seperti melati, mawar, atau sedap malam. Untuk melarutkan minyak atsiri yang terdapat pada bunga-bungaan tersebut, maka dibutuhkan pelarut yang biasanya adalah pelarut organik yang bersifat non-polar. Mengapa non-polar? Bunga-bungaan yang segar tentu mengandung air, bukan? Dalam konsep ikatan kimia, air itu bersifat polar. Nah, kalau digunakan pelarut yang polar juga seperti alkohol maka tentunya air yang terkandung dalam bunga akan larut ke dalamnya sehingga membutuhkan proses pemisahan yang lebih kompleks. Tetapi kalau digunakan pelarut non-polar maka air tidak akan larut ke dalamnya.
Banyak jenis pelarut organik non-polar, tetapi yang paling sering digunakan adalah heksana (C6H14) meskipun tidak menutup kemungkinan juga bisa digunakan benzena (C6H6) ataupun juga bensin/gasolin. Ada beberapa kriteria dalam memilih pelarut untuk ekstraksi bunga-bungaan selain sifatnya yang non-polar tadi , di antaranya adalah dapat melarutkan zat wangi dalam bunga secara sempurna, mempunyai titik didih yang rendah dan seragam, bersifat “inert” atau tidak bereaksi dengan zat wangi dalam bunga yang akan diekstrak, harga serendah mungkin dan mudah diperoleh.
Produk akhir ekstraksi bunga menggunakan pelarut ada dua macam, yaitu concrete dan absolute. Concrete merupakan minyak atsiri yang masih bercampur dengan lilin/resin serta sedikit pelarut. Saat proses ekstraksi berlangsung, tidak hanya minyak atsiri yang terlarut pada pelarut, tetapi juga lilin/resin ikut masuk ke dalamnya. Concrete berbentuk semi padat seperti lemak atau mentega. Sedangkan absolute adalah minyak atsiri yang murni tanpa pengotor seperti lilin/resin maupun sisa pelarut. Absolute lah yang harganya paling mahal.
Dalam terminologi ekstraksi pelarut, biasanya juga ada konsep lain yang tak kalah penting, yaitu evaporasi vakum. Kondisi vakum didefinisikan sebagai kondisi di bawah tekanan atmosferik (di bawah 1 atm / tekanan normal). Sedangkan evaporasi merupakan proses penguapan pelarut untuk memisahkannya dengan minyak atsiri dan atau lilin/resin. Sehingga jika digabungkan pengertiannya adalah proses penguapan pelarut pada kondisi di bawah tekanan normal. Mengapa harus vakum? Tentu saja ada tujuan-tujuan tertentu. Tujuan utamanya adalah untuk menurunkan titik didih dari pelarut tersebut sehingga temperatur proses secara keseluruhan menjadi lebih rendah. Semakin rendah tekanan maka temperatur prosesnya juga makin rendah. Misalnya; heksan pada tekanan normal (1 atm) bertitik didih 68 C, pada tekanan 0.7 atm titik didihnya 58 C, dan pada tekanan 0.2 atm titik didihnya 25 C. Kondisi inilah yang diharapkan pada proses ekstraksi minyak atsiri bunga-bungaan agar diperoleh minyak dengan kualitas yang baik. Artinya, kerusakan minyak atsiri akibat temperatur tinggi bisa dihindari. Sedangkan tujuan kondisi vakum yang lain adalah menjamin bahwa pelarut dapat terpisahkan semaksimal mungkin. Untuk mencapai kondisi vakum dibutuhkan alat pendukung yaitu pompa vakum.
Gambar berikut ini merupakan tahapan-tahapan dalam proses ekstraksi minyak bunga-bungaan menggunakan pelarut organik untuk mempermudah pembaca dalam memahami teknik ekstraksi pelarut ini.
Friday, April 10, 2009
Saturday, March 28, 2009
Training Minyak Atsiri Gel. IV, 14-15 Maret 2009
Training Atsiri Gel. IV ini diikuti oleh 21 peserta yang tersebar dari berbagai belahan nusantara, bahkan ada beberapa peserta datang dari negara tetangga. Semoga wawasan yang telah diperoleh dapat menjadi bekal dan pertimbangan dalam mengembangkan bisnis minyak atsiri. Perku diketahui bahwa Training Atsiri Gel IV ini merupakan yang terakhir dari serangkaian program training minyak atsiri yang kami selenggarakan sejak Gel I bulan Oktober 2008 lalu. Permintaan untuk in-house training bagi lembaga atau institusi yang berminat dapat menghubungi kami.

1. Pemaparan materi mengenai "Pengantar Wawasan dan Pengetahuan Minyak Atsiri"
2. Pemaparan materi mengenai "Kendala Teknis Pengembangan Bisnis Minyak Atsiri"
3. Pemaparan materi mengenai "Teknologi Produksi Minyak Atsiri dengan Proses Penyulingan"
4. Suasana training atsiri hari-1 di Hotel Patrajasa - Bandung.
Keterangan:1. Mejeng di kebun nilam...hehe.
2. Suasana di penyulingan minyak nilam dan bengkel pembuatan alat-alat penyulingan.
3. Hiking di pematang-pematang kebun sereh wangi.
4. Ritual rutin training "pose di depan spanduk".
Sunday, March 15, 2009
Training Minyak Atsiri Gel. III, 21-22 Feb 2009
Training Atsiri Gel. III ini diikuti oleh 41 peserta yang tersebar dari berbagai belahan nusantara. Semoga wawasan yang telah diperoleh dapat menjadi bekal dan pertimbangan dalam mengembangkan bisnis minyak atsiri.
1. Suasana training hari-1 di Hotel Patrajasa - Bandung (21 Feb 2009)2. Sesi diskusi panel yang menghadirkan 3 penyuling minyak atsiri yang berbeda.
3. Pembicara 1 sedang memberikan materi training
4. Pembicara 2 sedang memberikan materi training
5. Suasana training hari-2 di kebun atsiri6. Kang Asep sedang menjelaskan teknik bercocok tanam nilam
7. Penjelasan teknik pembuatan pupuk organik bokashi dan pestisida nabati
8. Photo bersama di halaman pabrik penyulingan menjelang akhir kegiatan
Thursday, February 05, 2009
TRAINING PENGEMBANGAN BISNIS PERKEBUNAN DAN PENYULINGAN MINYAK ATSIRI (Gel. III)
Dear para peminat minyak atsiri........
Bersama ini kami upload brosur training minyak atsiri Gel. III dari PT. Pavettia Atsiri Indonesia. Brosur dapat didownload di link: http://rapidshare.com/files/185758401/Brosur_training_atsiri_Gel_III.pdf
lalu, klik FREE USER, dan klik icon DOWNLOAD.
Apa yang baru dari training atsiri Gel III ini dibandingkan 2 gelombang sebelumnya? Selain tempat training (hari 1) yang kami pindahkan dari Lembang ke Bandung untuk memberikan kesempatan bagi peserta utk menikmati Kota Bandung, pada Gel III ini kami juga memberikan konsep baru berupa DISKUSI PANEL pada sesi hari 1 dengan mendatangkan 3 penyuling (praktisi) minyak atsiri (jenisnya berbeda) untuk dapat sharing pengalaman selama berkecimpung dalam dunia per-atsiri-an dengan dipandu oleh moderator. DISKUSI PANEL selama 1.5 jam ini diharapkan dapat dimanfaatkan para peserta untuk menggali pengetahuan praktis bisnis minyak atsiri langsung dari pelakunya semaksimal mungkin. Selain itu, pada Gel III ini akan diperkenalkan di lapangan mengenai budidaya sereh wangi (sebelumnya hanya diperkenalkan utk budidaya nilam-organik) .
SALAM ATSIRI!!
Informasi dan pendaftaran, hubungi:
RIJAL (0856-24931119) atau (022-92187803)
Bersama ini kami upload brosur training minyak atsiri Gel. III dari PT. Pavettia Atsiri Indonesia. Brosur dapat didownload di link: http://rapidshare.com/files/185758401/Brosur_training_atsiri_Gel_III.pdf
lalu, klik FREE USER, dan klik icon DOWNLOAD.
Apa yang baru dari training atsiri Gel III ini dibandingkan 2 gelombang sebelumnya? Selain tempat training (hari 1) yang kami pindahkan dari Lembang ke Bandung untuk memberikan kesempatan bagi peserta utk menikmati Kota Bandung, pada Gel III ini kami juga memberikan konsep baru berupa DISKUSI PANEL pada sesi hari 1 dengan mendatangkan 3 penyuling (praktisi) minyak atsiri (jenisnya berbeda) untuk dapat sharing pengalaman selama berkecimpung dalam dunia per-atsiri-an dengan dipandu oleh moderator. DISKUSI PANEL selama 1.5 jam ini diharapkan dapat dimanfaatkan para peserta untuk menggali pengetahuan praktis bisnis minyak atsiri langsung dari pelakunya semaksimal mungkin. Selain itu, pada Gel III ini akan diperkenalkan di lapangan mengenai budidaya sereh wangi (sebelumnya hanya diperkenalkan utk budidaya nilam-organik) .
SALAM ATSIRI!!
Informasi dan pendaftaran, hubungi:
RIJAL (0856-24931119) atau (022-92187803)
Wednesday, February 04, 2009
SEBUAH ANGAN (atau OBSESI??)
Jumat malam – 30 Jan 2009 lalu aku nonton acara “Kick Andy” di MetroTV (salah satu acara kegemaranku). Soo…inspiring and motivating! Acara malam itu bertemakan mengenai para petualang kelas dunia yang menurutku sudah “gila” dengan judul “Kisah Para Penjelajah”. Menghadirkan 4 bintang tamu orang Indonesia yang masing-masing pernah bertualang keliling dunia dengan ke”gila”annya masing-masing. Ada yang berlayar seorang diri dengan perahu kecil, mengendarai sepeda motor, mengendarai sepeda, dan bahkan berjalan kaki. “GENDHENG!!” kata Andy F. Noya sang empunya acaranya. And from the bottom of my heart, I salute you.
Kisah mereka begitu menarik disimak. Tergidik aku saat membayangkan bagaimana pengendara sepeda motor itu ditembaki oleh orang tak dikenal di gurun pasir Asia Selatan dan aneka debur was-was di daerah konflik lainnya (padahal ia membawa misi RIDE for PEACE) . Atau si pejalan kaki dilempari batu oleh banyak orang karena disangka anggota dari sekte kepercayaan tertentu di Amerika. Juga si pelayar yang terombang-ambing mencoba menyelamatkan diri dari gempuran pertemuan arus laut utara dan selatan yang ganas di Samudra Pasifik. Aahhhh...... amazing!!
Ada satu hikmah yang dipetik dari para petualang itu. Mengapa mereka mau melakukan itu semua? Apakah demi publisitas? Atau hanya untuk gaya-gayaan saja supaya terlihat berani di mata semua orang? Aku pikir lebih daripada itu. Mereka mau melakukan itu semua semata-mata berasal dari ”hati”. Mereka cinta pada aktivitasnya masing-masing. Mencintai sepeda motor, mencintai laut, mencintai nikmatnya berjalan kaki. Saking mendalamnya rasa cinta itu membuat mereka mampu melakukan sesuatu yang mencengangkan dunia atau khususnya Indonesia. Beberapa di antara mereka bahkan mengabadikan kisah petualangannya dalam sebuah buku untuk bisa dinikmati oleh orang banyak. Syukur-syukur bisa turut menginspirasi banyak orang di tengah dera kesulitan menghadapi roda kehidupan yang makin menggila ini.
Fer, ini khan ”Essential oil Corner”, lalu apa hubungannya cerita di atas dengan minyak atsiri? Yah, terus terang aku sangat terinspirasi oleh kisah mereka. Kalau aku mengaku cinta pada dunia minyak atsiri, mengapa aku tidak bisa mengukir kisah seperti mereka. Meskipun dengan nuansa dan musim yang berbeda. Misalnya, bisa saja aku berkeliling Indonesia (dengan cara-cara normal saja lah, tidak harus dengan motor, sepeda, atau berjalan kaki) dari Aceh hingga Papua mengunjungi setiap sentra perkebunan dan penyulingan minyak atsiri. Atau mengeksplorasi tanaman-tanaman minyak atsiri Indonesia yang belum dikenal luas. Di akhir perjalanan, aku bisa menyimpan semua memori, kisah, dan pengetahuan tersebut dalam sebuah buku hingga setiap orang yang ingin mengetahui betapa kayanya minyak atsiri Indonesia bisa membaca buku itu. Ernerst Guenther aja bisa bisa keliling dunia pada tahun 1950-an hingga membuat buku ”master piece”nya minyak atsiri yang tak ada duanya hingga kini, kenapa gue nggak!! Meskipun mimpinya baru kelas lokal saja.
Atau bisa saja mengumpulkan tanaman-tanaman minyak atsiri Indonesia, mulai dari yang umum sampai yang langka lalu dikumpulkan dan ditanam di satu lokasi tertentu sebagai media pembelajaran dan rekreasi minyak atsiri. Jadilah ”Taman Atsiri Indonesia” (disingkat TAI......upsss...). Thomas Stanford Raffles aja pada abad 19 aja bisa mengumpulkan aneka tanaman tropis di Bogor hingga menjadi ”Kebun Raya Bogor” yang sangat terkenal. Atau Ibu Tien Suharto mewujudkan mimpi membuat ”Taman Buah Nusantara” di Cileungsi-Bogor. Kenapa gue nggak!! Ada yang mau sponsorin.....hehehe. Ah, dengan atau tanpa sponsor ”lagi-lagi” kalau semua berasal dari ”hati” dengan ridho-Nya mudah-mudahan ’everything in your dream’ bisa terwujud.
ESSENTIAL OIL for PEACE !!!
Kisah mereka begitu menarik disimak. Tergidik aku saat membayangkan bagaimana pengendara sepeda motor itu ditembaki oleh orang tak dikenal di gurun pasir Asia Selatan dan aneka debur was-was di daerah konflik lainnya (padahal ia membawa misi RIDE for PEACE) . Atau si pejalan kaki dilempari batu oleh banyak orang karena disangka anggota dari sekte kepercayaan tertentu di Amerika. Juga si pelayar yang terombang-ambing mencoba menyelamatkan diri dari gempuran pertemuan arus laut utara dan selatan yang ganas di Samudra Pasifik. Aahhhh...... amazing!!
Ada satu hikmah yang dipetik dari para petualang itu. Mengapa mereka mau melakukan itu semua? Apakah demi publisitas? Atau hanya untuk gaya-gayaan saja supaya terlihat berani di mata semua orang? Aku pikir lebih daripada itu. Mereka mau melakukan itu semua semata-mata berasal dari ”hati”. Mereka cinta pada aktivitasnya masing-masing. Mencintai sepeda motor, mencintai laut, mencintai nikmatnya berjalan kaki. Saking mendalamnya rasa cinta itu membuat mereka mampu melakukan sesuatu yang mencengangkan dunia atau khususnya Indonesia. Beberapa di antara mereka bahkan mengabadikan kisah petualangannya dalam sebuah buku untuk bisa dinikmati oleh orang banyak. Syukur-syukur bisa turut menginspirasi banyak orang di tengah dera kesulitan menghadapi roda kehidupan yang makin menggila ini.
Fer, ini khan ”Essential oil Corner”, lalu apa hubungannya cerita di atas dengan minyak atsiri? Yah, terus terang aku sangat terinspirasi oleh kisah mereka. Kalau aku mengaku cinta pada dunia minyak atsiri, mengapa aku tidak bisa mengukir kisah seperti mereka. Meskipun dengan nuansa dan musim yang berbeda. Misalnya, bisa saja aku berkeliling Indonesia (dengan cara-cara normal saja lah, tidak harus dengan motor, sepeda, atau berjalan kaki) dari Aceh hingga Papua mengunjungi setiap sentra perkebunan dan penyulingan minyak atsiri. Atau mengeksplorasi tanaman-tanaman minyak atsiri Indonesia yang belum dikenal luas. Di akhir perjalanan, aku bisa menyimpan semua memori, kisah, dan pengetahuan tersebut dalam sebuah buku hingga setiap orang yang ingin mengetahui betapa kayanya minyak atsiri Indonesia bisa membaca buku itu. Ernerst Guenther aja bisa bisa keliling dunia pada tahun 1950-an hingga membuat buku ”master piece”nya minyak atsiri yang tak ada duanya hingga kini, kenapa gue nggak!! Meskipun mimpinya baru kelas lokal saja.
Atau bisa saja mengumpulkan tanaman-tanaman minyak atsiri Indonesia, mulai dari yang umum sampai yang langka lalu dikumpulkan dan ditanam di satu lokasi tertentu sebagai media pembelajaran dan rekreasi minyak atsiri. Jadilah ”Taman Atsiri Indonesia” (disingkat TAI......upsss...). Thomas Stanford Raffles aja pada abad 19 aja bisa mengumpulkan aneka tanaman tropis di Bogor hingga menjadi ”Kebun Raya Bogor” yang sangat terkenal. Atau Ibu Tien Suharto mewujudkan mimpi membuat ”Taman Buah Nusantara” di Cileungsi-Bogor. Kenapa gue nggak!! Ada yang mau sponsorin.....hehehe. Ah, dengan atau tanpa sponsor ”lagi-lagi” kalau semua berasal dari ”hati” dengan ridho-Nya mudah-mudahan ’everything in your dream’ bisa terwujud.
ESSENTIAL OIL for PEACE !!!
Tuesday, February 03, 2009
TAKARAN MINYAK ATSIRI, mengapa menggunakan kg dan bukan liter?
Lagi-lagi diambil dari diskusi di milis: atsiri-indonesia@yahoogroups.com
Pertanyaan:
dear rekan2 milis,
Sebelumnya, Selamat Hari Raya Idul Adha, Mohon Maaf Lahir Bathin....
begini, saya barusan baca Trubus terbaru, topiknya tentang asap cair dari kelapa. para penjual asap cair itu menjualnya ada yang Rp 20.000,-/liter.
yang saya tanyakan, kenapa ukurannya per liter, bukan per kilo seperti menjual minyak atsiri. padahal prosesnya hampir sama. apa yang membedakan ukurannya. mohon pencerahannya.
makasih
salam,
desy
Ferry (mantra_mantra_jingga@yahoo.com)
Sebagian besar minyak atsiri menggunakan satuan kg dalam penjualannya. Hanya beberapa jenis minyak mahal yang dalam perdagangan retail menggunakan cc (ml). Kalau mau konversi satuan dari liter ke kg, tinggal mencari data densitas masing2 minyak atsiri saja. Minyak nilam hampir mendekati 1, sekitar 0,997 jadi 1 kg minyak nilam hampir sama dengan 1 liter. Kalau utk minyak pala beda lagi, 1 liter minyak pala ekivalen dengan 0,88 – 0,9 kg.
Mengapa minyak atsiri justru menggunakan satuan kg? Ini berkaitan dengan komponen2 berharga (valueable) dalam minyak atsiri yg kebetulan rata-rata memiliki densitas tinggi. Makin tinggi densitas minyak atsiri (makin berat), maka "disinyalir" minyak itu memiliki kualitas yg baik (dalam batas atas tertentu, lihat SNI). Kalau yg dijadikan acuan satuan volume (liter), maka mau yang kualitas baik atau kurang baik nilainya akan sama saja. Sedangkan kalau satuan berat (kg), nilainya tentu akan menjadi berbeda. Sebagai analogi saja, dalam minyak pala (dan bbrp jenis minyak atsiri lain) ada istilah "minyak ringan" dan "minyak berat". "Minyak berat" itu kualitas yang sangat bagus. Kalau saya jual 1 liter kedua jenis minyak tersebut dalam satuan LITER, maka antara "minyak ringan" dan "minyak berat" harganya akan sama saja. Tapi kalau dalam satuan kg, 1 liter minyak ringan = 0,88 kg. Sedangkan 1 liter minyak berat = 1,05-1,1 kg. Jadi lebih mahal yg mana??
Tapi ini bukan berarti jualnya pisah2, lho. Ujung2nya tetap diblending juga kedua minyak tersebut. Hanya utk memberikan analogi saja mengapa minyak atsiri dalam fasa ruah (bulk) dijual dalam satuan kg (dan bukan liter).
Asap cair bukan jenis minyak atsiri, lho.
Secara fundamental teknik produksinya sudah berbeda dgn minyak atsiri. Proses pirolisis dalam pembuatan asap cair berbeda dengan hidrodifusi (hidrodistilasi) dalam pembuatan minyak atsiri.
Pertanyaan lanjutan, mengapa bensin, minyak diesel (solar), minyak tanah penjualannya dalam satuan liter, kok nggak kg saja....hehe. Karena minyak2 tersebut sudah standar semuanya, alias 1 kualitas. Tidak ada minyak tanah, bensin, atau solar yang kualitasnya jelek atau bagus yang dipengaruhi oleh komponen2 utamanya. Anda mau beli bensin dan solar di Papua dengan di Jakarta semuanya sama-sama saja, kecuali pengecernya yg nakal dengan melakukan pengoplosan. Atau lain lagi urusannya sudah beda nama dagang, misalnya bensin dengan oktan yang lebih tinggi dijual dengan nama Pertamax.
Nuzul K.H
Dear Mb Desy,
Sepertinya itu hanya masalah ukuran saja. Karena waktu itu ada buyer yang nanyakan ke saya harga minyak nilam, beliau masih menanyakan pula apakah harga minyak saya dalam liter atau kg.
Yang pasti, nilai kg lebih besar dari liter :) hehe....
Ferry (mantra_mantra_jingga@yahoo.com)
Tergantung jenis minyak atsirinya lho, Mbak. Apakah densitasnya besar atau kecil. Utk jenis minyak atsiri yg densitasnya lebih kecil dari 1 g/ml (nilam, sereh, pala), maka apabila menjual dgn satuan liter akan lebih menguntungkan dibandingkan satuan kg. Sebaliknya jenis minyak atsiri yg densitas lebih besar dari 1 g/ml (cengkeh, kayu manis, lajagowah), menjual dalam satuan kg akan lebih menguntungkan dibanding satuan liter.
Silakan mengimajinasikan statement saya di atas...:)
Pertanyaan:
dear rekan2 milis,
Sebelumnya, Selamat Hari Raya Idul Adha, Mohon Maaf Lahir Bathin....
begini, saya barusan baca Trubus terbaru, topiknya tentang asap cair dari kelapa. para penjual asap cair itu menjualnya ada yang Rp 20.000,-/liter.
yang saya tanyakan, kenapa ukurannya per liter, bukan per kilo seperti menjual minyak atsiri. padahal prosesnya hampir sama. apa yang membedakan ukurannya. mohon pencerahannya.
makasih
salam,
desy
Ferry (mantra_mantra_jingga@yahoo.com)
Sebagian besar minyak atsiri menggunakan satuan kg dalam penjualannya. Hanya beberapa jenis minyak mahal yang dalam perdagangan retail menggunakan cc (ml). Kalau mau konversi satuan dari liter ke kg, tinggal mencari data densitas masing2 minyak atsiri saja. Minyak nilam hampir mendekati 1, sekitar 0,997 jadi 1 kg minyak nilam hampir sama dengan 1 liter. Kalau utk minyak pala beda lagi, 1 liter minyak pala ekivalen dengan 0,88 – 0,9 kg.
Mengapa minyak atsiri justru menggunakan satuan kg? Ini berkaitan dengan komponen2 berharga (valueable) dalam minyak atsiri yg kebetulan rata-rata memiliki densitas tinggi. Makin tinggi densitas minyak atsiri (makin berat), maka "disinyalir" minyak itu memiliki kualitas yg baik (dalam batas atas tertentu, lihat SNI). Kalau yg dijadikan acuan satuan volume (liter), maka mau yang kualitas baik atau kurang baik nilainya akan sama saja. Sedangkan kalau satuan berat (kg), nilainya tentu akan menjadi berbeda. Sebagai analogi saja, dalam minyak pala (dan bbrp jenis minyak atsiri lain) ada istilah "minyak ringan" dan "minyak berat". "Minyak berat" itu kualitas yang sangat bagus. Kalau saya jual 1 liter kedua jenis minyak tersebut dalam satuan LITER, maka antara "minyak ringan" dan "minyak berat" harganya akan sama saja. Tapi kalau dalam satuan kg, 1 liter minyak ringan = 0,88 kg. Sedangkan 1 liter minyak berat = 1,05-1,1 kg. Jadi lebih mahal yg mana??
Tapi ini bukan berarti jualnya pisah2, lho. Ujung2nya tetap diblending juga kedua minyak tersebut. Hanya utk memberikan analogi saja mengapa minyak atsiri dalam fasa ruah (bulk) dijual dalam satuan kg (dan bukan liter).
Asap cair bukan jenis minyak atsiri, lho.
Secara fundamental teknik produksinya sudah berbeda dgn minyak atsiri. Proses pirolisis dalam pembuatan asap cair berbeda dengan hidrodifusi (hidrodistilasi) dalam pembuatan minyak atsiri.
Pertanyaan lanjutan, mengapa bensin, minyak diesel (solar), minyak tanah penjualannya dalam satuan liter, kok nggak kg saja....hehe. Karena minyak2 tersebut sudah standar semuanya, alias 1 kualitas. Tidak ada minyak tanah, bensin, atau solar yang kualitasnya jelek atau bagus yang dipengaruhi oleh komponen2 utamanya. Anda mau beli bensin dan solar di Papua dengan di Jakarta semuanya sama-sama saja, kecuali pengecernya yg nakal dengan melakukan pengoplosan. Atau lain lagi urusannya sudah beda nama dagang, misalnya bensin dengan oktan yang lebih tinggi dijual dengan nama Pertamax.
Nuzul K.H
Dear Mb Desy,
Sepertinya itu hanya masalah ukuran saja. Karena waktu itu ada buyer yang nanyakan ke saya harga minyak nilam, beliau masih menanyakan pula apakah harga minyak saya dalam liter atau kg.
Yang pasti, nilai kg lebih besar dari liter :) hehe....
Ferry (mantra_mantra_jingga@yahoo.com)
Tergantung jenis minyak atsirinya lho, Mbak. Apakah densitasnya besar atau kecil. Utk jenis minyak atsiri yg densitasnya lebih kecil dari 1 g/ml (nilam, sereh, pala), maka apabila menjual dgn satuan liter akan lebih menguntungkan dibandingkan satuan kg. Sebaliknya jenis minyak atsiri yg densitas lebih besar dari 1 g/ml (cengkeh, kayu manis, lajagowah), menjual dalam satuan kg akan lebih menguntungkan dibanding satuan liter.
Silakan mengimajinasikan statement saya di atas...:)
Subscribe to:
Posts (Atom)